Website Ini Khusus Memberikan Informasi Tentang Semua Jenis Burung Murai Batu Beserta Cara Perawatannya...

01 Desember 2016

Mengenal Tentang Murai Batu Balak 8

Murai Batu Balak 8 lagi-lagi merupakan bentuk variasi dari keanekaragaman hayati MB kepulauan. Bisa ditemukan di P.Weh, P. Breuh di provinsi NAD. Beberapa MB Pesisir Pulau Sumatra di NAD dan Sumatra Utara pernah ditemukan mempunyai pola ekor seperti ini. Salah satunya adalah MB pesisir dari daerah Lamno.

Mengenal Tentang Murai Batu Balak 8

Gambar MB diatas ini merupakan MB Sabang yang dibawa dulu sekali sebagai oleh-oleh pulang ke Jawa dari seorang aparat yang bertugas di Sabang.MB Balak 8 ini kami beri nama KuDeTa dan sekarang menjadi salah satu Jantan indukan di Padepokan Bala6 - Jakarta dengan kode ring DIGDAYA KDT.

Dari pengalaman kami selama ini di Padepokan Bala6, MB balak 8 sering muncul sebagai hasil silangan antara MB Balak vs MB Medan.Ini kasus yang kami amati dari anakan jantan Nakula (Lempuyang Balak 6) vs betina May Lady (Medan), anakan F4ntastic (Sabang Balak 4) vs betina GB Angel (Medan)dan anakan Balrock (Sabang Balak 6) vs betina Candu (Medan). KuDeTa yang kawin dengan betina balak 6 anakan Anggada menghasilkan anakan Balak 6.

Mengenal Tentang Murai Batu Balak 8

Gambar MB diatas ini adalah anak dari Nakula dengan kode ring DIGDAYA NKL 001 / YAQISA 096 yang diberi nama Commando oleh pemiliknya, Mas Adi Wicaksono di Depok. Terlihat bahwa ekornya mengikuti pola ekor balak 8 yang merupakan perpaduan pola ekor induk jantan & betina. Semoga Padepokan Bala6 dapat melanjutkan produksi serial balak 8 ini.

Mengenal Tentang Murai Batu Balak 8
( Sumber Artikel : Here )

Mengenal Tentang Murai Batu Bordan

Mengenal Tentang Murai Batu Bordan
MB Bordan, hasil perkawinan murai batu borneo dan murai batu medan.

Pernah mendengar istilah murai batu bordan? Ya, ini buah kreativitas beberapa penangkar murai batu, yang mengawinkan murai batu medan (Copsychus malabaricus tricolor) jantan dan murai batu borneo (Copsychus malabaricus suavis) betina. 

Tujuannya tentu ingin memadukan gaya dan karakter (mental) dari kedua murai batu berbeda ras. Sudah adakah bukti bahwa filial pertama (F1) dari perkawinan ini mampu mengumpulkan berbagai keunggulan dari kedua induknya, terutama bukti nyata di lapangan? Yuk, kita simak analisis kami berikut ini...

Sebelumnya kami sekadar mengingatkan, bahwa sambil bersenang-senang dengan hobi burung, tidak ada salahnya kita untuk “belajar benar”. Banyak kicaumania yang menyebut murai batu bordan merupakan hasil persilangan antara murai batu medan dan murai batu borneo.

Penggunaan istilah persilangan (crossing) pada kasus ini tidak tepat, karena crossing adalah istilah perkawinan antara dua spesies yang berbeda. Misalnya antara white-rumped shama (Copsychus malabaricus) dan white-crowned shama (Copsychus stricklandii). Kalau perkawinan seperti ini bisa disebut persilangan.

Adapun murai batu medan dan murai batu borneo masih satu spesies, yaitu Copsychus malabaricus, meskipun subspesies atau rasnya berbeda. Murai medan termasuk ras tricolor, dan murai borneo termasuk ras suavis. Sekali lagi, ini jika kita mau belajar benar, tanpa harus mengurangi kesenangan kita terhadap burung kicauan, khususnya burung murai batu.

Oke, langsung masuk ke pokok persoalan...

Baik murai batu medan maupun murai batu borneo mempunyai kelebihan masing-masing. Murai batu medan dikenal memiliki suara kicauan yang sangat variatif, dengan gaya tarung nagen, dan suara tembakannya keras. Adapun murai batu borneo memiliki kekhasan dalam gaya bertarung, yaitu menggembungkan dadanya.

Jenis murai batu ini dikenal memiliki stamina prima, power kuat, dan mental bertarung yang bagus. Nah, berbagai keunggulan inilah yang ingin disatukan pada keturunan hasil perkawinan dua murai berbeda ras tersebut. Diharapkan, F1 yang dihasilkan nantinya memiliki gaya bertarung yang atraktif, suara yang variatif, mental bertarung yang bagus, stamina prima, dan power kuat.

Karena belum ada upaya untuk membentuk galur baru dari anakan murai batu borneo dan murai batu medan, maka hasil yang diperoleh sangat bervariasi, dan belum bisa dijadikan kesimpulan final. Ada kasus di mana F1 dari perkawinan berbeda ras ini mengungguli murai batu medan dalam berbagai even di Bali. Namanya Red King, hasil breeding Om D’Yan, yang sekaligus memolesnya menjadi murai jawara.

Gaya bertarungnya masih sama seperti murai batu medan, yang sering memainkan ekornya dengan cantik. Ada juga F1 yang gaya bertarungnya seperti murai batu borneo, yaitu menggembungkan dada, atau bahkan kombinasi keduanya seperti pada murai bordan milik Om Amiexs, yang videonya bisa Anda lihat berikut ini :

video
Video Murai Batu Bordan Milik Amiexs Bird Farm

Bagi para penangkar murai, sebenarnya masih banyak hal yang bisa dieksplorasi dari perkawinan murai beda ras. Misalnya, perlu dicoba bagaimana jika F1 dikawinkan dengan F1. Atau diteruskan lagi dengan perkawinan F2 dan F2, F2 dan F1, dan seterusnya.

Atau F1 betina dikawinkan dengan MB medan jantan, serta F1 betina dikawinkan dengan MB borneo jantan, dan lihat perbandingannya. Sebaliknya, F1 jantan dikawinkan dengan MB medan maupun MB borneo betina, untuk dilihat perbandingannya pula.

Dengan melakukan berbagai percobaan, Anda bisa menentukan hasil akhir sesuai dengan keinginan. Misalnya apakah Anda ingin menghilangkan gaya mengembungkan dada. Atau tetap mempertahankan gaya ini, karena murai mania di Kalimantan juga menyukainya, namun burung bisa memiliki irama lagu yang lebih bervariasi dan tembakan yang lebih keras.

Bahkan, F1 ini bisa dikawinkan lagi dengan ras berbeda, yaitu murai batu ekor hitam (Copsychus malabaricus melanurus) untuk memperoleh variasi baru lagi. Ini menjadi tantangan yang mengasyikkan bagi para breeder murai batu di Indonesia. Ada yang mau??? (sambil makan mi instant cup date, he… he…) Bagaimana dengan perawatan murai batu bordan? Ya sama seperti murai batu biasa. Lha wong masih satu spesies kok.
( Sumber Artikel : Here )

28 November 2016

Menyingkap Misteri Murai Batu Dari Ujung Pancu Aceh

Ujung Pancu (terkadang ditulis Ujong Pancu) terletak di Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar. Daerah ini, menurut Om Herry Aceh yang juga pakar murai batu di Indonesia, dikenal memiliki murai berkualitas, meski sekarang makin langka setelah habitatnya tergerus tragedi tsunami, 26 Desember 2004.

Berdasarkan foto yang pernah diuploadnya, ada dua jenis MB di kawasan ini. Salah satunya cukup unik dan mengandung “misteri” karena bulu dada hingga perutnya putih kekuningan (istilahnya supak), dengan kaki agak kehitaman.

Menyingkap Misteri Murai Batu Dari Ujung Pancu Aceh
Murai batu supak dari Ujung Pancu. (Foto: Om Herry Aceh).

Selain murai batu supak, satu jenis lagi sama seperti murai batu aceh pada umumnya, seperti dua gambar di bawah ini :

Menyingkap Misteri Murai Batu Dari Ujung Pancu Aceh

Menyingkap Misteri Murai Batu Dari Ujung Pancu Aceh
Murai batu Ujung Pancu non-supak. (Foto: Herry Aceh).

Artikel kali ini hanya membahas murai batu supak, di mana bagian dada dan perut berwarna putih, atau putih kekuningan. Sebab ini memang aneh jika dikaitkan dengan peta persebaran berbagai ras murai batu maupun spesies yang mempunyai hubungan kekerabatan dengannya.

Ujung Pancu adalah wilayah di bagian ujung Sumatera, yang termasuk wilayah Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar. Menurut Om Herry Aceh, jaraknya sekitar 20 km dari Kota Banda Aceh. Selain memiliki murai batu berkualitas, daerah Ujung Pancu juga dikenal sebagai salah satu lokasi memancing favorit masyarakat Aceh.

Namun, ketika terjadi tragedi tsunami, daerah ini mengalami kerusakan paling parah, termasuk kerusakan terumbu karang serta habitat murai batu. Untuk gambaran lengkap mengenai daerah Ujung Pancu.

Karakteristik Murai Batu Supak

Selain bulu dada dan perutnya yang berwarna putih atau putih kekuningan, murai batu supak memiliki warna hitam yang cenderung doff, alias tak mengkilap (glossy) atau indigo. Panjang bulu ekornya sekitar 20 cm, dan sanggup diangkat secara tegak lurus. MB supak sejak dulu menjadi incaran para penggemar murai batu, baik di Aceh maupun kota lain di Indonesia.

Menyingkap Misteri Murai Batu Dari Ujung Pancu Aceh
Warna hitamnya cenderung doff, tidak mengkilap. (Foto: Herry Aceh)

Beberapa muraimania senior mengatakan, MB supak memiliki gaya tarung yang super-fighter. Bahkan sampai ada yang menyebut “urat takut” pada burung ini sudah putus (he.. he.. he..), karena saking beraninya. Selain mental tempurnya hebat, murai batu supak memiliki volume suara yang tebal (kristal).

Yang pasti, burung ini sangat langka. Sebab, tidak semua murai batu dari Ujung Pancu punya warna bulu dada dan perut supak: putih atau putih kekuningan. Om Nanang Satriani (Malang) pernah memiliki pengalaman saat menurunkan gaconya dalam sebuah latpres. Ketika itu, burungnya digantang persis di sebelah murai batu supak.

Selama berlomba, MB supak terus mengeluarkan tembakan luar biasa, mental bertarungnya istimewa. Alhasil, MB milik Om Nanang lebih banyak ngetem dan malah anteng melihat aksi murai batu supak tersebut. Wow…

Kecil Kemungkinan Akibat Depigmentasi 

Apabila kita telusuri semua ras yang ada dalam spesies murai batu (Copsychus malabaricus), sebenarnya tak ada satu ras pun yang memiliki ciri seperti murai batu supak.

Semuanya pasti berwarna merah-karat atau oranye tua di bagian dada dan perutnya. Belum diketahui pasti, apakah di Ujung Pancu (terutama sebelum tragedi tsumani) ditemukan banyak sekali murai batu supak. Jika jumlahnya hanya sedikit, mungkin kita dapat menduga penyebabnya adalah depigmentasi pada warna merah atau cokelat.

Tetapi kemungkinan seperti itu kecil. Sebab merah, cokelat, dan cokelat-merah berada dalam tanggung jawab pigmen melanin. Pigmen ini juga bertanggung jawab terhadap warna hitam dan kuning tua (kusam). Apabila bulu mengalami depigmentasi, tentu warna hitam juga akan hilang, sehingga murai batu menjadi albino.

Kalau depigmentasi terjadi tidak secara total, maka murai batu bukan mengalami albino, tapi menjadi murai batu blorok. Jadi, dari analisis ini, murai batu supak kecil kemungkinannya terjadi akibat depigmentasi.

Mungkinkah Ini Spesies Murai Andaman?

Kemungkinan lain adalah masuknya murai andaman (Copsychus albiventris). Kerabat dekat murai batu ini merupakan burung endemik Kepulauan Andaman di sekitar Teluk Benggala, India. Spesies ini pernah dimasukkan dalam salah satu ras / subspesies murai batu, namun sekarang dipisah karena perbedaan morfologi yang mendasar, terutama warna bulu dada dan perutnya.

Menyingkap Misteri Murai Batu Dari Ujung Pancu Aceh
Murai andaman (Copsychus albiventris)

Kalau melihat sejarah masa lalu, di mana para pedagang dari Gujarat India pertama datang ke Aceh untuk syiar Islam, dan menjadi cikal bakal masuknya Islam ke Indonesia, kemungkinan ini bisa saja terjadi. Artinya sebagian di antara pelaut dan saudagar ini datang ke Aceh sambil membawa murai andaman.

Banyak pelaut maupun saudagar dari mancanegara termasuk dari Belanda, Spanyol, Portugal, dan Inggris, datang ke Indonesia sambil membawa aneka satwa dari negerinya, lantas berbiak di negeri kita. Namun, untuk kebenaran mengenai masalah ini perlu penelitian mendalam. Memang banyak sekali kemiripan antara murai andaman dan murai batu supak, terutama bulu dada dan perut yang putih atau putih kekuningan.

Mutasi Juga Menjadi Kemungkinan Realistis

Jika faktor depigmentasi kurang realistis, maka mutasi genetik menjadi kemungkinan realistis terkait keberadaan murai batu supak, selain introduksi murai andaman di Aceh, khususnya di kawasan Ujung Pancu. Mutasi pada murai batu ini bermula dari kekurangan gizi yang menyebabkan warna tertentu pudar.

Menyingkap Misteri Murai Batu Dari Ujung Pancu Aceh
Murai batu supak bisa dimungkinkan akibat mutasi.

Menurut Margareth A Wissman (2005), nutrisi yang kurang atau tidak tepat diberikan kepada burung akan mengakibatkan kualitas warna bulu lama-kelamaan bakal berkurang dan memudar. Jika sampai mabung berikutnya warna merah atau cokelat tetap memudar, bahkan hilang, ini akan mengarah ke mutasi warna.

Bahkan jika periode mabung selanjutnya tak bisa pulih, bisa dipastikan burung benar-benar mengalami mutasi pada warna tertentu, dan perubahan sifat ini dapat diwariskan kepada anak-anak atau keturunannya. Burung yang mengalami mutasi disebut mutant, di mana terjadi perubahan susunan DNA dan bersifat individu.

Meski bersifat individu, DNA yang selalu berpasangan ini tersimpan dalam gen, dan menempati lokus gen dalam kromosom, sehingga bisa diwariskan kepada anak-anak atau keturunannya.

Jadi, menurut analisis Om Kicau, ada dua kemungkinan yang terjadi pada murai batu supak. Pertama, faktor introduksi murai andaman di Aceh, khususnya Ujung Pancu.

Mengapa tidak ada murai batu di luar Ujung Pancu yang berciri supak? Karena murai batu bukanlah burung migran, melainkan burung penetap. Kedua, faktor mutasi yang terjadi sejak puluhan atau bahkan ratusan tahun lalu.

Jika analisis kedua ini benar, maka MB supak sejatinya tetap berasal dari spesies murai batu (Copsychus malabaricus). Kalau analisis pertama yang benar, maka MB supak termasuk murai andaman yang sudah beradaptasi dengan lingkungan Ujung Pancu.

( Sumber Artikel : Here )

Membuat Kandang Penangkaran Murai Batu Di Lahan Yang Sempit

Membuat Kandang Penangkaran Murai Batu Di Lahan Yang Sempit

Anda masih memiliki sisa lahan di sekitar rumah ? Kalau ada, yuk kita bikin kandang penangkaran burung murai batu. Tidak masalah jika sisa lahan agak sempit, misalnya 1-2 meter di samping atau belakang bangunan rumah. Jika mau, lahan sempit pun masih bisa dimanfaatkan. Artikel kali ini akan memandu Anda membuat kandang penangkaran murai batu di lahan sempit, tahap demi tahap, disertai dengan gambar ilustrasi.

Membuat Kandang Penangkaran Murai Batu Di Lahan Yang Sempit
Kandang penangkaran murai batu dalam berbagai ukuran dan lokasi.

Dalam artikel ini, jenis burung yang dijadikan sampel adalah murai batu. Tetapi panduan ini juga dapat diterapkan untuk beberapa jenis burung kicauan lain seperti kacer, jalak suren, dan cucakrowo yang postur tubuhnya hampir seukuran.

Memanfaatkan lahan sempit di sekitar rumah untuk kandang penangkaran burung tentu bisa menambah penghasilan, jika Anda memang bersungguh-sungguh ingin menekuni usaha breeding burung kicauan. Setidaknya, ini bisa dijadikan ajang menghimpun pengalaman dalam beternak burung bagi calon breeder atau breeder pemula.

Kelak, jika sudah mampu mengatasi berbagai kendala, kandang bisa dikembangkan lebih luas di lokasi baru, baik milik sendiri maupun menyewa lahan milik orang lain. Ada beberapa persyaratan yang perlu dipenuhi dan menjadi pertimbangan sebelum membangun kandang penangkaran, meski dalam beberapa kasus tidak bersifat mutlak :

1). Lokasi sebaiknya berada di tempat yang aman dari gangguan, misalnya lalu-lalang manusia yang terlalu sering, lokasi yang terlalu bising (misalnya dekat jalan raya atau pabrik), dan sebagainya.

2). Setiap petak kandang memiliki ukuran panjang 90 cm, lebar 80 cm, dan tinggi 180 cm. Tetapi, jika kondisi lahan tidak memungkinkan, bisa dilakukan penyesuaian ukuran mengikuti luas lahan yang tersedia.

3). Dinding kandang sebaiknya tidak dilapisi semen atau tanpa aci. Jadi, biarkan batu bata atau batako tetap “telanjang”. Hal ini untuk menjaga kelembaban kandang, sehingga suasana di dalam tidak terlalu kering.

4). Lantai kandang bisa diisi dengan pasir biasa, atau pasir pantai yang banyak dijual di toko-toko akuarium. Tujuannya agar kotoran burung cepat meresap, dan mudah dibersihkan dengan cara mengaduknya. Tetapi hal itu hanya pilihan, karena lantai juga bisa disemen, atau bahkan dibiarkan apa adanya (alas tanah).

Berikut ini desain kandang penangkaran sederhana yang dibuat dengan menggunakan software sketch up dari Google, sebagai panduan dalam membangun kandang penangkaran sederhana ala kami...

1. Mencari Lokasi 

Lokasi untuk kandang penangkaran bisa memanfaatkan lahan kosong di samping atau belakang rumah, terutama bagi Anda yang memiliki lahan sempit.

Membuat Kandang Penangkaran Murai Batu Di Lahan Yang Sempit
Tahap awal pembuatan kandang penangkaran.

Selanjutnya, lihat gambar di bawah ini. Inilah desain kandang breeding murai batu yang bisa diterapkan. Untuk memantau pasangan induk di dalam kandang, Anda bisa membuat lubang di tengah kandang yang bisa ditutupi dengan kaca hitam atau sebuah pintu kecil.

2. Konstruksi Kandang 

Detail konstruksi kandang penangkaran murai batu, atau burung seukuran, bisa dilihat pada gambar di bawah ini :

Membuat Kandang Penangkaran Murai Batu Di Lahan Yang Sempit
Tahap pembuatan kandang penangkaran

Pada bagian dasar kandang, pastikan hewan-hewan seperti tikus, kucing, dan anjing tidak mudah membobol kandang. Untuk kucing dan anjing, usahakan tidak pernah bisa masuk ke area di sekitar kandang, karena akan membuat burung stres ketika melihatnya.

Dinding belakang kandang hanya memanfaatkan dinding belakang / samping rumah. Jadi, Anda tinggal membuat dinding-dinding samping, dari batako atau batu bata. Sedangkan dinding depan bersifat terbuka, yang terdiri atas rangka dan kawat ram. Untuk rangka kandang, Anda bisa menggunakan kayu kaso atau tiang alumunium yang banyak dijual di toko material.

Kandang memiliki dua pintu masuk. Yang paling bawah berukuran lebih besar, yaitu pintu masuk untuk memudahkan kita saat memantau sarang, sekaligus saat ingin membersihkan kotoran di dalam kandang. Adapun pintu yang berukuran lebih kecil ( di atas pintu besar ) untuk mengganti pakan dan air minum.

3. Pemasangan Kawat Ram Dan Pintu

Setelah dinding samping rampung, dan rangka pada dinding depan sudah terpasang, kini saatnya memasang kawat ram dan pintu yang dibutuhkan. Untuk atapnya, Anda bisa menggunakan genteng, atau atap gelombang dari bahan asbes atau plastik.

Membuat Kandang Penangkaran Murai Batu Di Lahan Yang Sempit
Tahap akhir pembuatan kandang breeding murai batu.

Karena lahan sempit, kita tidak perlu membuat separo atap bersifat terbuka. Siapkan pula tirai dari kain atau bekas MMT, atau terpal, yang sewaktu-waktu ditutup ketika turun hujan lebat atau suasana kandang agak ramai.

Kandang selesai dibuat. Namun, sebaiknya jangan langsung digunakan. Biarkan 1-2 hari kosong, agar kondisi di dalamnya terasa lebih lembab dulu. Setelah itu, kandang bisa digunakan.

Selamat mencoba, semoga bermanfaat...

( Sumber Artikel : Here )